Login to your account

Username *
Password *
Remember Me

Create an account

Fields marked with an asterisk (*) are required.
Name *
Username *
Password *
Verify password *
Email *
Verify email *
Captcha *
Reload Captcha

JawaPos.com - Populasi sapi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada 2013, populasi sapi mencapai 13 juta ekor. Kemudian saat ini populasinya meningkat menjadi 16,8 juta ekor. Demikian berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

"Artinya ada peningkatan 3-4 juta ekor," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat berkunjung ke Malang, Jawa Timur (Jatim), Selasa (17/7).

Sebelumnya, peningkatan jumlah sapi hanya disekitar 180 ribu ekor. Atau ada peningkatan 500-700 persen populasi sapi. "Ini akan kami lanjutkan," sambung Amran.

Keberhasilan lain di sektor pertanian adalah ekspor domba yang berasal dari Jatim. Pertama dalam sejarah, Indonesia mengekspor domba ke Malaysia 60 ribu ekor.

Amran menegaskan, sekarang bukan lagi bicara mengenai swasembada daging. Namun menjadi swasembada protein. "Sekarang swasembada protein. Jangan cerita daging. Protein bisa dari ayam, telur, domba, sapi. Bukti kami sudah swasembada, (sudah) ekspor telur, ekspor ayam, ekspor domba. Artinya sudah swasembada," tukas Amran.

Selengkapnya kunjungi www.jawapos.com

Indo Livestock, pameran peternakan terbesar kembali digelar, berlangsung 4-6 juli 2018 di Jakarta Convention Center (JCC). Pameran kali ini mengusung tema “Protein Hewani Sumber Kedaulatan Pangan Indonesia dalam Rangka Meningkatkan Pasar Global “. Indo livestock merupakan tempat bertukar inovasi mutakhir di bidang peternakan, yang pada akhirnya akan mendorong peningkatkan kualitas produksi peternakan Indonesia.

Arya Seta Wiriadipoera (ketua penyelenggara) dalam sambutannya menyampaikan Pameran ini diikuti 550 peserta yang berasal dari 40 negara diantaranya Indonesia, Amerika, Inggris, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Tiongkok, dan Turki yang akan memamerkan teknologi industri peternakan. Pameran ini diikuti oleh pengusaha, peneliti, pemerhati, produsen, dan konsumen serta lembaga pemerintah.

Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) dalam sambutannya yang disampaikan I Ketut Diarmita (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan) menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian telah meluncurkan program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja). Hal itu dilakukan dalam rangka pemberdayaan unggas lokal ternak kambing/domba dan kelinci serta untuk mewujudkan swasembada protein hewani.

Selain pameran diselenggarakan juga 22 seminar oleh kementerian dan asosiasi terkait serta 103 slot persentasi bagi pengunjung tanpa dipungut biaya. Indo livestock 2018 ini berbeda dengan indo livestock sebelumnya, tahun ini menampilkan UMKM yang sudah seleksi oleh Kementerian Pertanian yang akan menampilkan hasil olahan ternak.

Indo livestock 2018 juga mengadakan sosialisasi gizi kepada masyarakat betapa pentingnya peningkatan komsumsi gizi protein hewani (susu, daging, telur, dan ikan) sebagai upaya mencerdaskan bangsa. 

Selengkapnya kunjungi peternakan.litbang.pertanian.go.id

09:06 WIB | Kamis, 07 Juni 2018 | Teknologi, Inovasi Teknologi | Penulis : Gesha

 

Kemajuan teknologi khususnya di sub sektor peternakan kini tengah berkembang pesat, khususnya untuk perkembangan populasi sapi di masa depan. Satu yang terbaru adalah test kit untuk mendeteksi kebuntingan dini pada sapi.

Adanya test kit tersebut tentunya memberikan peluang untuk mengetahui sapi bunting pada usia kebuntingan muda sesudah dilakukan inseminasi atau kawin secara alami. Karena selama ini, metode deteksi kebuntingan pada ternak sapi dilakukan secara konvensional yaitu dengan pengecekan fisik secara langsung (perogohan/palpasi rectal) yang hanya bisa dilakukan 60 hari setelah inseminasi.

“Dengan test kit ini diagnosis kebuntingan dapat dilakukan lebih awal yaitu mulai umur 15 hari dan hanya membutuhkan waktu 60 menit dalam pelaksanaannya. Peternak juga dapat meningkatkan efisiensi reproduksi dan menekan biaya produksi,” tutur Kepala Loka Penelitian Sapi Potong, Dicky Pamungkas ketika dihubungi Tabloid Sinar Tani Online.

Deteksi kebuntingan dini pada sapi induk ini dapat meningkatkan efisiensi reproduksi sehingga dapi induk yang diketahui belum bunting dapat segera dikawinkan kembali. “Hal ini bisa memperpendek masa kosong atau kering dan sapi induk yang telah secara dini diketahui bunting dapat segera dipelihara secara lebih baik untuk menjaga dan menyelamatkan kebuntingan sampai lahir dengan selamat” tambahnya.

Test Kit yang diberi nama Kit Imunodotbloting Pregnancy ini secara teknis serupa dengan Elisa Kit untuk deteksi kebuntingan yang sebelumnya sudah dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Perbedaannya hanya dari kemudahan membaca hasil deteksi kebuntingan yang terjadi. Elisa Kit sebelumnya terlihat perubahan warna darah yang diteteskan pada test kit namun pembacaan akurat masih menggunakan Elisa reader.

Sedangkan untuk test kit Imunodotbloting ini menggunakan sampel darah yang diambil pada sapi dan dimasukkan dalam mesin sentrifuge kemudian diteteskan pada dotblot yang tersedia. “Apabila terjadi perubahan warna dari merah ke jingga dan semakin pekat maka umur kebuntingan semakin tinggi,” paparnya. Perubahan warna ini terjadi karena reaksi dan ikatan dari antigen dalam serum darah dengan reagen yang ada pada test kit.

Ujicoba Akurasi

Dicky menuturkan test kit imunodotbloting ini telah dilakukan ujicoba akurasi sejak 2017. “Kita lakukan di Kab. Lumajang dan Kab. Lamongan dengan menggunakan 140 sampel. Didapatkan keakuratan 87,5%,” tuturnya.

Sedangkan untuk tahun 2018 ini, program ujicoba dilanjutkan dengan diintegrasikan pada program SIWAB yang menjadi keunggulan Kementerian Pertanian untuk memperbanyak populasi sapi. “Akan ada 1000 test pack yang akan digunakan untuk mengetes kebuntingan sapi yang sudah diinseminasikan,” tuturnya.

Dicky mengakui dibandingkan cara konvensional, test kit ini lebih mahal. Untuk pengecekan kebuntingan dengan palpaci rectal, biasanya peternak hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 35 ribu. Untuk test kit ini, peternak harus merogoh kocek sampai Rp 50 ribu per sampel. “Ada baiknya memang diintegrasikan dalam program SIWAB sehingga petani merasa terbantu,” jelasnya.

Mengenai kesiapan untuk diperbanyak, Dicky mengakui masih menemui beberapa kendala yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Seperti bahan kimia yang digunakan untuk reagen harus melalui proses preorder. “Kita juga masih membutuhkan teknisi yang mumpuni untuk bisa mengambil sampel darah untuk diteteskan dalam test kit karena peternak belum ada kemampuan untuk itu,” tutup Dicky. (gsh)

Berita selengkapnya : tabloitsinartani.com

Jakarta, 24 Juni 2018 - Sebagian besar penduduk yang tinggal di perdesaan adalah sebagai petani, di mana pendapatan utamanya lebih dari 70 persen berasal dari sektor pertanian. Dengan demikian, pembangunan pertanian mempunyai peran yang strategis dan penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan yang didominasi oleh petani. Pertanyaan yang muncul adalah, betulkah pembangunan pertanian selama ini mampu memperbaiki kesejahteraan petani? 

 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian RI, Ketut Kariyasa menyodorkan sejumlah data untuk menjawab pertanyaan di atas. 

 Menggunakan data yang dihimpun, Ketut memaparkan beberapa indikator. Di antaranya bagaimana perkembangan  jumlah penduduk miskin di perdesaan,  seberapa merata pendapatan rumah tangga petani, dan bagaimana perkembangan daya beli masyarkat petani di perdesaan.

 Jumlah Penduduk Miskin Perdesaan Menurun

 Membaiknya kesejahteraan petani selama ini dapat dilihat dari menurunnya secara konsisten jumlah penduduk miskin di perdesaan baik secara absolut maupun persentase, walaupun penurunannya tidak sedrastis di wilayah perkotaan. "Pada September 2015, jumlah penduduk miskin di perdesaan sebanyak 17,89 juta jiwa atau 14,09%, dan pada Sept 2016 turun menjadi 17,28 juta jiwa atau 13,96%, dan pada Sept 2017 turun lagi menjadi  16,31 juta jiwa atau 13,47%, jelas Ketut. 

 Membaiknya kesejahteraan petani juga dapat dilihat dari berkurangnya ketimpangan pengeluaran (menurunnya Gini Rasio) yang juga mencerminkan semakin meratanya pendapatan petani di pedesaaan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak Maret 2015 sampai Maret 2017, Gini Rasio  pengeluaran masyarakat di perdesaan terus menurun, dari 0,334 pada tahun 2015 menjadi 0,327 pada tahun 2016 dan menurun lagi menjadi 0,320 pada tahun 2017.  Ketut menambahkan, "Kondisi ini secara implisit menunjukkan semakin membaiknya pendapatan petani. Gini Rasio di perkotaan juga mengalami penurunan, namun masih berada dalam ketimpangan sedang, sementara di perdesaan sudah berada dalam ketimpangan rendah."

 Daya Beli Petani Membaik

 Selain itu, membaiknya kesejahteraan petani juga terlihat dari membaiknya indek Nilai Tukar Petani (NTP) dan Indek Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP). Berdasarkan data yang dirilis BPS, secara nasional pada Mei 2018 indek NTP meningkat 0,37 persen jika dibanding April yang hanya 101,61. Begitu juga indek NTUP meningkat 0,32% dari 111,03 pada April 2018 menjadi 111,38 pada Mei 2018.  "Kenaikan NTP dan NTUP ini menunjukkan membaiknya daya beli petani yang secara otomatis menunjukkan kesejahteraan petani membaik," kata Ketut. Meningkatkanya daya beli petani juga terjadi jika dibandingkan pada tahun sebelumnya (Mei 2017).  Pada tahun Mei 2017, indek NTP hanya 100,15, sementara pada Mei 2018 lebih besar, yaitu 101,99.

 Dengan memperhatikan beberapa indikator terkait dengan kesejahteraan petani Ketut menegaskan, "Sebenarnya secara cepat dapat dilihat keberhasilan pembangunan pertanian yang dijalankan selama ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani dalam pemerintahan Jokowi-JK tidak perlu diragukan lagi."

Selengkapnya kunjungi pertanian.go.id

Senin, 4 Juni 2018 – Komisi IV DPR RI menggelar Rapat Kerja dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Senin (4/6). Rapat ini membahas RKA-/KL dan RKP-/KL tahun 2018.
 
Pada rapat ini, Komisi IV DPR RI melalui Ketua Komisi, Edhy Prabowo mengapresiasi capaian ekspor pangan saat ini. Bahkan Komisi IV pun mengapresiasi atas kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil pertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2017 oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 
 
“Penilaian ini menegaskan komitmen Kementerian Pertanian untuk memperbaiki sistem keuangan yang akuntabel,” demikian kata Edhy.
 
Dari keseluruhan hasil pemeriksaan BPK RI, hingga 31 Desember 2017 dari 1.126 rekomendasi, sebanyak 973 rekomendasi atau 86,41% telah ditindaklanjuti, 9,86% belum ditindaklanjuti dan 3,73% tidak dapat ditindaklanjuti.  Keseluruhan hasil pemeriksaan BPK RI tersebut mencakup audit Laporan Keuangan dan Audit Tujuan Tertentu.
 
Sementara itu, data BPS menyebutkan nilai ekspor pertanian 2017 sebesar USD 33,1 miliar naik 24 persen dibandingkan ekspor 2016 sebesar USD 26,7 miliar. Demikian pula impornya semakin menurun, kinerja 2017 ini diperoleh surplus USD 15,9 miliar atau naik 45,8 persen dibandingkan tahun 2016 surplus USD 10,9 miliar.
 
Program Prioritas 2019
 
Pada Raker ini, Kementan mengajukan 10 kegiatan prioritas yang akan dianggarkan pada 2019. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa Rencana Kerja 2019 tersebut mengacu pada prioritas nasional.
 
"Terutama untuk untuk peningkatan nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Serta pemantapan ketahanan  energi,  pangan,  dan  sumber  daya  air," terang Amran saat Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI.
 
Amran menyampaikan 10  kegiatan utama tersebut antara lain, pertama, produksi dan perbanyakan  benih/bibit  melalui  pengembangan nursery/kebun  benih/bibit. Kedua, peningkatan penyediaan  air  melalui perbaikan jaringan irigasi dan pembangunan embung, long storage, dam parit. Lalu ke tiga, modernisasi pertanian melalui peningkatan bantuan (Alsintan).
 
"Keempat, pengembangan komoditas strategis padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi/kerbau, cabai dan bawang merah. Kemudian ke lima percepatan peningkatan bawang putih dan pengembangan komoditas substitusi impor," papar Amran.
 
Amran melanjutkan, untuk prioritas keenam juga masih melanjutkan upaya swasembada pangan, yaitu penyediaan dan perbanyakan indukan sapi melalui Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB). 
 
Berikutnya, yang ketujuh mendongkrak produktivitas pertanian melalui pencetakan sawah di wilayah perbatasan dan daerah pengembangan baru dan optimasi lahan kering dan lahan rawa. Kedelapan terkait pengembangan sumber daya manusia bidang pertanian yakni peningkatan pendidikan dan pelatihan vokasional. Menggenjot ekspor pertanian juga masuk dalam prioritas menjadi terutama dengan pengembangan lumbung pangan berorientasi ekspor di daerah perbatasan.
 
Terakhir, pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat petani miskin di perdesaan. "Kementerian Pertanian meluncurkan program baru tahun ini, yakni bedah kemiskinan rakyat sejahtera atau disingkat Bekerja," ungkap Amran.
 
Untuk pelaksanaan kegiatan utama dan pencapaian target produksi di atas, pagu indikatif anggaran Kementerian Pertanian tahun 2019 dialokasikan sebesar Rp21,07 triliun.
 
Terkait anggaran, Kementan membuktikan komitmen laporan anggaran yang baik dengan mempertahankan opini WTP dari BPK  tahun 2017. 
 
"Ini adalah tahun ke dua setelah tahun 2016, Kementan mendapat WTP untuk pertama kalinya. Alhamdulillah, berkat kerja keras bersama untuk kita pertahankan dan tingkatkan tradisi laporan keuangan yang baik," tutur Amran.
 

ZONA INTEGRITAS

UGP
WBK
Play Pause

APLIKASI LOLIT SAPI POTONG

VISITORS COUNTER

TodayToday442
YesterdayYesterday416
This_WeekThis_Week1483
This_MonthThis_Month4932
All_DaysAll_Days33159

 


(by AWStats )

5173
View Pages
35302
Hits

Kunjungi media sosial kami :