Login to your account

Username *
Password *
Remember Me

Create an account

Fields marked with an asterisk (*) are required.
Name *
Username *
Password *
Verify password *
Email *
Verify email *
Captcha *
Reload Captcha

Program Swasembada Daging Sapi telah dicanangkan Pemerintah beberapa kali, dan yang terakhir diubah menjadi Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau 2014 (PSDSK 2014). Ditargetkan bahwa pada tahun 2014 impor daging dan sapi hidup hanya sekitar 10 persen dari total kebutuhan nasional. Namun kenyataannya target ini belum dapat diwujudkan, karena justru kebijakan impor yang diarahkan Kementerian Perdagangan telah mendorong impor daging dan sapi siap potong lebih besar. Oleh sebab itu, kita perlu focus untuk mengupayakan agar populasi sapi dan kerbau terus meningkat, dan produksi daging sapi di dalam negeri bertambah.

Saat ini produksi daging sapi di dalam negeri masih mengandalkan pasokan dari Nusatenggara, Bali, dan Jawa. Hal-hal yang positif dan sudah dilakukan masyarakat di beberapa wilayah tersebut perlu diungkapkan, antara lain penggemukkan sapi Bali di Timor dalam suatu sistem bagi hasil. Pengembangan village breeding centre di Jawa Tengah yang mengembangkan sapi PO juga merupakan bentuk pembelajaran yang perlu diketahui. Proses pendampingan dalam uapaya pengembangan sapi juga perlu mendapat perhatian, antara lain dengan meningkatkan peran peneliti dan penyuluh di BPTP. Ke depan, pengembangan sapi harus memanfaatkan wilayah yang berlimpah pakan di kawasan kebun sawit, antara lain di Sumatera dan Kalimantan.

Penelitian dan pengkajian Sistem Integrasi Sawit-Sapi telah dilakukan oleh tim Badan Litbang Pertanian sejak tahun 2003 yang lalu di PT Agricinal-Bengkulu. Sebelum kajian tersebut, peneliti dari Lolit Kambing Potong Sumatera Utara (ex-Sub BPT yang bergabung dengan BPTP Sumatera Utara) sudah menginisiasi penelitian awal dan sangat terbatas dalam memanfaatkan limbah perkebunan untuk pakan ternak.

Pengembangan sapi di PT Agricinal semula dilakukan untuk meringankan dalam pengumpulan tandan buah segar (TBS) yang menjadi salah satu pekerjaan terberat para pemanen. PT Agricinal mengintroduksi ternak sapi Bali sebagai tenaga penarik gerobak atau pengangkut TBS untuk memperingan pekerjaan tersebut. Introduksi sapi Bali ini ternyata cocok dengan kondisi setempat sehingga para pemanen dapat bekerja lebih produktif, efektif, mudah dan nyaman serta mendapatkan tambahan penghasilan dari sapi yang dipelihara.

Model Sistem Integrasi Sawit-Sapi yang telah berhasil dijalankan di PT Agricinal Bengkulu kemudian menjadi inspirasi dan pendorong para peminat sistem integrasi untuk dapat diterapkan di lokasi-lokasi lain di Indonesia. Proses diseminasi sistem integrasi sawit sapi yang telah dijalankan dan teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian telah berkembang di lokasi-lokasi lainnya. Para peneliti Badan Litbang Pertanian melakukan penelitian di laboratorium, melakukan pengkajian di lapang dan membantu mengatasi permasalahan di dalam pengembangan sistem integrasi sawit sapi di lokasi pengembangan yang baru.

Saat ini berbagai model sistem integrasi sawit sapi di lokasi pengembangan baru muncul di Indonesia, sebagai proses adaptasi dan penyesuaian sesuai dengan kondisi lokal spesifik. Proses ini merupakan proses yang wajar agar usaha yang terintegrasi ini dapat berjalan lebih menguntungkan, efisien dan ramah lingkungan. Berbagai model Sistem Integrasi Sawit-Sapi yang telah berhasil berkembang dengan baik digambarkan dalam beberapa makalah di buku bunga rampai ini. Berbagai model yang telah berhasil dikembangkan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembang sistem integrasi di lokasi pengembangan baru. Tidak tertutup kemungkinan akan berkembang model sistem integrasi yang lebih inovatif sesuai keadaan sosial, kultural dan geografi Indonesia yang sangat beragam.

Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan untuk mencukupi kebutuhan daging sapi di dalam negeri yang ke depan akan terus bertumbuh. Konsentrasi ternak tersebar di wilayah yang sering mengalami kesulitan pakan di saat kemarau/kering, terutama di Nusa Tenggara, Bali dan Jawa. Sementara itu, kawasan yang berlimpah pakan, seperti perkebunan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan relative kosong ternak. Melihat kecenderungannya, luasan kebun kelapa sawit di Indonesia ke depan akan terus bertumbuh, dan saat ini luasnya lebih dari 9 juta ha. Seiring hal tersebut memberi peluang yang sangat besar untuk pengembangan sapi melalui Sistem Integrasi Sawit-Sapi dalam suatu sistem pertanian bioindustri yang ramah lingkungan.

Sistem integrasi ini akan berkembang dengan pesat apabila pekebun atau pengusaha kebun sawit dapat merasakan secara langsung manfaatnya, antara lain dalam hal: (i) pengurangan penggunaan pupuk kimia yang harganya semakin mahal, (ii) meningkatnya kesuburan lahan karena penggunaan bahan organic yang berasal dari pengolahan kotoran ternak, (iii) meningkatnya produktivitas tanaman akibat kesuburan lahan terjaga, (iv) bertambahnya pendapatan pekebun/pengusaha dari penjualan ternak, dan (v) peluang pemanfaatan untuk meringankan beban pengumpul TBS.

Laju pertumbuhan penduduk yang terus bertambah, meningkatnya tingkat pendidikan dan pengetahuan serta makin membaiknya pendapatan perkapita menuntut ketersediaan bahan pangan yang cukup, baik dalam jumlah, kualitas maupun kontinuitas, termasuk kebutuhan pangan yang berasal dari produk peternakan (daging, telur dan susu). Namun demikian laju permintaan akan produk peternakan tersebut tidak diimbangi dengan laju produktivitas ternak yang ada, atau dengan perkataan lain rendahnya produktivitas ternak tidak mampu mengimbangi laju permintaan pangan asal peternakan. Kondisi tersebut disebabkan usaha peternakan dihadapkan pada permasalahan pokok, yang hingga kini belum memberikan hasil yang diharapkan, yakni ketersediaan bahan pakan yang kurang memadai. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk peternakan, maka daging dan/atau ternak, khususnya sapi untuk dipotong didatangkan dari luar negeri dalam skala yang cukup banyak. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun, apabila upaya meningkatkan usaha peternakan dalam negeri mengalami kegagalan. Adalah hal yang mustahil, apabila Indonesia sebagai Negara Agraris yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup banyak dan berlimpah, tidak mampu meningkatkan produktivitas ternak lokal yang ada, khususnya untuk sapi potong. Semakin luasnya kawasan tanaman perkebunan, khususnya tanaman kelapa sawit, maka semakin banyak pula produk ikutan/produk samping yang dapat diperoleh. Kondisi yang demikian memberi peluang tersendiri bagi usaha sapi potong untuk dapat memanfaatkan secara optimal biomassa produk samping tanaman dan industri pengolahan hasil tanaman perkebunan/kelapa sawit, sebagai bahan pakan sapi potong.

Disamping itu, pemanfaatan produk samping industri sawit sebagai bahan pakan alternatif diharapkan mampu mengatasi problem klasik yang sering dihadapi para produsen sapi potong, yakni kekurangan bahan pakan. Diharapkan pula ketersediaan bahan pakan alternatif tersebut mampu memenuhi kebutuhan ternak, sekaligus meningkatkan tingkat berproduksi dan bereproduksi sesuai potensi genetik ternak sapi potong.

Pada akhirnya, upaya-upaya tersebut diharapkan dapat memberi nilai tambah, bukan saja yang bersumber dari sapi potong, tetapi dari perkebunan sawit. Semoga

Program Sapi Indukan Wajib Bunting merupakan program yang digalakkan Kementerian Pertanian untuk menunju Indonesia swasembada daging. Buku ini sangat cocok untuk petugas lapang dan peternak karena berisi tentang manajemen pemeliharaan sapi induk, informasi tentang penyakit dan kesehatan, serta reproduksi.

Pada tahun 2014, Pemerintah bertekad dapat berswasembada daging sapi dan kerbau  yang berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan tersebut Kementrian Pertanian sedang melaksanakan program yang di kenal dengan Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 (PSDSK-2014). Upaya untuk mencukupi kebutuhan daging sapi secara nasional harus dipenuhi dari ketersediaan sapi bakalan.  Jumlah sapi betina produktif, peningkatan efesiensi reproduksi, menekan laju mortalitas, dan menekan pemotongan sapi betina produktif akan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan sapi  bakalan yang saip digemukkan. Sapi bakalan yang dihasilkan akan menunjukkan performa yang baik apabila dilakukan usaha pembibitan yang menerapkan prisip-prinsip pembibitan yang baik. Namum demikian kelayakan usaha budidaya sapi lebih rendah dibandingkan usaha penggemukan, sehingga diperlukan upaya-upaya efesiensi usaha budidaya dan pembibitan sapi.

Salah satu upaya untuk meningkatkan efesiensi usaha pengembangbiakan dan pembibitan, yang untuk selanjutnya disebut dengan usaha budidaya, adalah dengan melakukan integrasi usaha budidaya sapi dengan usaha pertanian. Salah satu peluang sistem integrasi yang dapat menampung usaha budidaya sapi potong adalah dengan perkebunan kelapa sawit yang luasnya hampir mencapai 9 juta hektar. Sistem integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) merupakan salah satu jawaban pengembangan budidaya sapi, dengan menerapkan optimalisasi pemanfaatan inovasi  teknologi terkait.

Pusat Penelitian dan  Pengembangan Peternakan melalui kegiatan Penguatan Model Pengembangan Integrasi Sapi-Sawit  Tahun 2012, telah menyusun buku Panduan “Budidaya Sapi Potong Berbasis Agroekosistem Perkebunan Kelapa Sawit”,  dengan tujuan untuk memberikan pemahaman tentang budidaya sapi potong dengan pendekatan SISKA.  Diharapkan buku ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan usaha budidaya sapi potong terutama di wilayah dengan basis agroekosistem perkebunan kelapa sawit.  Penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada Tim Penyusun dan Penyunting, serta ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga selesainya buku ini.  Semoga buku ini dapat berguna bagi para pembaca untuk pengembangan sapi potong di Indonesia.

ZONA INTEGRITAS

UGP
WBK
Play Pause

APLIKASI LOLIT SAPI POTONG

VISITORS COUNTER

TodayToday6
YesterdayYesterday83
This_WeekThis_Week6
This_MonthThis_Month3108
All_DaysAll_Days15559

 


(by AWStats )

5173
View Pages
35302
Hits

Kunjungi media sosial kami :