Login to your account

Username *
Password *
Remember Me

Create an account

Fields marked with an asterisk (*) are required.
Name *
Username *
Password *
Verify password *
Email *
Verify email *
Captcha *
Reload Captcha

Pemuliaan pada ternak maupun tanaman pakan ternak bertujuan untuk meningkatkan mutu genetik guna meningkatkan produktivitas dan/atau kualitas produk yang dihasilkan. Peningkatan performa yang disebabkan perubahan genetik pada umumnya bersifat permanen. Benih dan bibit merupakan komponen teknologi yang sangat penting dalam budidaya tanaman dan usaha ternak. Faktor penting pendukung adalah dihasilkan mikroba veteriner untuk membuat produk yang sesuai dengan jenis ternak di lingkungannya yang diperlukan untuk mendukung peningkatan produktivitas ternak maupun kualitas produk. Penyediaan benih dan bibit bermutu merupakan awal dari upaya peningkatan mutu agribisnis. Dengan tersedianya benih dan bibit unggul diharapkan dapat diperolehnya produktivitas yang tinggi dan pemasaran yang menguntungkan.

Balai dan Loka Penelitian lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan telah memproduksi bibit unggul ternak dan benih tanaman pakan ternak serta telah mengisolasi, memurnikan dan memproduksi mikroba veteriner dan mikroba yang terkait dengan produksi ternak. Untuk menjamin pelanggan terhadap kualitas produk benih dan bibit unggul hasil penelitian, sudah dibentuk suatu kelembagaan unit pengelola benih sumber dan bibit unggul (UPBS/BU) yang mengarah pada penerapan sistem sertifikasi benih dan bibit.

Benih dan bibit unggul hasil penelitian yang mempunyai karakteristik unggul, perlu di perbanyak dahulu untuk selanjutnya dikembangkan di lapang.  Perbanyakan benih dan bibit unggul dapat dilakukan melalui kerja sama dengan UPT Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, UPT pemerintah daerah, dan swasta.  Benih dan bibit hasil penangkaran tersebut kemudian dikembangkan di masyarakat.
Buku ini merupakan pedoman umum pembentukan kelembagaan unit pengelolaan benih sumber dan/atau bibit unggul di UPT lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Buku ini bersifat dinamis yang dapat disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Peningkatan jumlah populasi ternak sapi merupakan target utama yang harus dilaksanakan dalam rangka mendukung program percepatan swasembada daging sapi (P2SDS) di Indonesia. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah upaya meningkatkan populasi sapi betina produktif denganberbagai cara. Undang-undang No.6/67 tentang "Ketentuan ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan" melarang untuk dilakukan pemotongan ternak sapi betina produktif, namun implementasinya perlu diikaji ulang karena menjadi kontra produktif dengan kondisi yang ada di lapang saat ini. Peningkatan jumlah populasi ternak sapi betina ini memang tidak dapat dilakukan dalam jangka pendek, tetapi harus secara bertahap dan dalam jangka panjang dengan program yang jelas

Berkaitan dengan hal tersebut, Tim Analisis Kebijakan Puslitbang Peternakan telah menyusun konsep awal upaya peningkatan populasi sapi betina produktif di Indonesia . Hal ini dilaksanakan melalui kegiatan desk study dan lokakarya bekerjasama dengan Ditjen Peternakan dan Perhimpunan limu Pemuliaan Indonesia (PERIPI) di Jakarta, tanggal 21 April 2008. Berbagai pelaku usaha dan instansi terkait ikut terlibat dalam kegiatan ini seperti pengambil kebijakan, akademisi, peneliti, asosiasi dan organisasi profesi serta praktisi usaha sapi potong. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan usaha sapi potong di Indonesia, utamanya dalam mewujudkan swasembada daging sapi

Agribisnis sapi di Indonesia mempunyai prospek yang sangat besar, karena permintaan produk daging, susu maupun kulit terus meningkat, seirama dengan pertambahan penduduk dan perkembangan perekonomian nasional. Namun sangat disayangkan karena dalam beberapa dasawarsa terakhir ini impor ketiga produk tersebut cenderung terus meningkat, walaupun terjadi fluktuasi sebagai akibat adanya perubahan global maupun dinamika nasional.

Daya saing industri peternakan ditentukan pada ketersediaan pakan, disamping faktor bibit, manajemen dan kesehatan hewan, serta inovasi teknologi dan faktor-faktor eksternal lainnya. Indonesia tidak memiliki padang pangonan yang memadai, dan juga sangat terbatas dalam kemampuannya menyediakan biji-bijian (jagung, kedelai, kacang-kacangan, dll.), tetapi negara ini mempunyai sumberdaya pakan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu biomasa yang dihasilkan dalam usahatani, perkebunan, agroindustri, dan rerumputan yang tumbuh sebagai cover crop. Inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian telah membuktikan bahwa bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak ruminansia. Bahkan biaya pakan yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut sangat kompetitif. Pengembangan ternak ruminansia dengan demikian harus dilakukan dengan pola integrasi secara in-situ maupun ex-situ, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Untuk tujuan menghasilkan sapi bakalan, crop livestock system melalui pendekatan low external input merupakan pola yang harus ditempuh. Sedangkan untuk tujuan penggemukan dan ternak perah dapat menggunakan teknologi yang padat modal.

Sampai saat ini sebagian masyarakat Indonesia dapat menerima daging kerbau sebagai layaknya daging sapi. Oleh karenanya untuk kondisi agroekologi dan sosial budaya tertentu, pengembangan kerbau dapat juga dilakukan. Sementara itu pengembangan sapi potong, sapi tipe dwiguna atau sapi perah sangat tergantung pada kondisi daerah, dengan pertimbangan pada aspek kemudahan dalam mengelola dan memasarkan susu. Sedangkan secara teknis perbedaannya relatif tidak besar, kecuali dalam hal kesehatan/kebersihan dan intensitas manajemen.

Profil usaha penggemukan sapi skala 1000 ekor sapi bakalan setiap siklus dengan tiga siklus per tahun, akan diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 1,83 miliar dengan R/C ratio 1,18. Profil usaha cow-calf operation (pembibitan) sapi skala 1500 ekor induk untuk menghasilkan 1000 ekor sapi bakalan per tahun, akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 0,42 miliar dengan R/C ratio 1,21. Sedangkan profil usaha pabrik pakan skala 10 ton per hari, akan diperoleh keuntungan sebesar Rp. 0,5 miliar per tahun dengan R/C ratio 1,31.

Untuk merespon perkembangan agribisnis sapi di Indonesia dalam 10 tahun ke depan agar 90 persen kebutuhan daging dapat dipenuhi dari produk domestik diperlukan dukungan investasi sebesar Rp. 24 trilyun, yang berasal dari: (i) pemerintah sekitar 10 persen berupa pembangunan sarana-prasarana, litbang, perbibitan, penyuluhan, pengamanan dari ancaman penyakit berbahaya, kelembagaan, promosi, dan dukungan akses atas sumber permodalan; (ii) investasi dari peternak kecil sekitar 60-70 persen melalui pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki, dan penambahan ternak; (iii) sedangkan investasi dari swasta sekitar 20-30 persen untuk kegiatan hulu dan hilir, serta pada usaha penyediaan bibit, budidaya sapi perah dan penggemukan.

Kebijakan pemerintah untuk mendorong agar usaha ini dapat berkembang pesat antara lain adalah: (i) dukungan untuk menghindari dari ancaman produk luar yang tidak ASUH, ilegal, dan barang-barang dumping, melalui kebijakan tarif maupun non-tarif; (ii) dukungan dalam hal kepastian berusaha, keamanan, terhindar dari pungutan liar dan pajak yang berlebihan; (iii) dukungan dalam hal pembangunan sarana pendukung, kelembagaan, permodalan, pemasaran, persaingan usaha yang adil, promosi, dan penyediaan informasi, serta (iv) dukungan agar usaha peternakan dapat berkembang secara integratif dari hulu-hilir, melalui pola kemitraan, inti-plasma, dan memposisikan yang besar maupun kecil dapat tumbuh dan berkembang secara adil.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk kegiatan budidaya bagi 200.000 tenaga kerja, serta satu juta tenaga kerja dalam kegiatan hulu dan hilir. Dengan demikian pengembangan agribisnis sapi di Indonesia akan mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa dalam hal ketahanan pangan, lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat, devisa, serta perekonomian nasional.

Kebijakan menuju swasembada daging sapi pada tahun 2010 secara resmi telah dinyatakan Pemerintah (cq . Departemen Pertanian) sebagai langkah konkrit tindak lanjut Revitalisasi Pertanian yang telah dicanangkan Presiden pada tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat . Dalam konteks ketahanan pangan, langkah untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan hewani ini perlu segera direalisir . Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa ketergantungan pada impor produk peternakan akan menguras devisa dan melemahkan kemandirian bangsa .

Kurangnya pasokan sapi bakalan merupakan permasalahan utama dalam industri sapi potong di Indonesia, sehingga perlu upaya terhadap intensifikasi program breeding, cow ca/f operation dan penggemukan . Oleh karena itu perlu dicari alternatif model pengembangan usaha sapi potong melalui pola kemitraan dengan sasaran ganda yaitu meningkatkan produksi dan memberdayakan petani dan peternak . Bila saat ini usaha penggemukan lebih bertumpu pada pasokan sapi bakalan impor, ke depan perlu diupayakan untuk mencari penggantinya yang berasal dari sapi lokal . Namun, keberhasilan suatu program harus didasarkan pada kekuatan dan potensi sumberdaya lokal seperti pakan dan bibit . Program ini perlu didukung oleh masyarakat sejak awal dengan mempertimbangkan aspek kearifan lokal yang dikombinasikan dengan aplikasi teknologi inovatif ramah lingkungan . Pendekatan aspek sosial melalui pemberdayaan . masyarakat juga perlu dilakukan karena peningkatan produksi sapi nasional harus searah dengan perbaikan taraf hidup masyarakat untuk dapat hidup lebih sejahtera .

Berkaitan dengan hal tersebut, Tim Analisis Kebijakan Puslitbang Peternakan telah menyusun konsep awal tentang Ill pemberdayaan masyarakat melalui model pengembangan usaha sapi potong . Hal ini dilaksanakan melalui kegiatan diskusi panel bekerjasama dengan Ditjen Peternakan dan Asosiasi di bidang peternakan (APFINDO dan PPSKI) . Diskusi ini diikuti oleh hampir seluruh pengemban kepentingan yang terdiri dari pelaku usaha, pengambil kebijakan dan pimpinan UPT bidang perbibitan, serta para peneliti dan akademisi. Pembicara utama dalam diskusi ini adalah para pelaku usaha yang telah sukses mengembangkan bisnis sapi potong, yang diharapkan dapat menawarkan alternatif model pembangunan sapi potong.

BukuPerkawinan Sapi Potong di Indonesia disusun sebagai bahan acuan dan informasi teknik perkawinan sapi potong pada usaha pembibitan sapi potong, kalangan pendidikan dan masyarakat umum yang membutuhkan.

Buku ini,  merupakan strategi mengatasi permasalahan reproduksi sapi potong di Indonesia, terutama teknik perkawinan sapi potong lokal dan hasil kawin silang, yang berasal dari rangkuman hasil-hasil penelitian dan studi pustaka sapi potong lokal dan persilangannya sebagai bahan pelajaran dan pengetahuan dalam usaha perbibitan sapi potong di Indonesia.

Buku ini berisi tentang potensi dan asal-usul sapi potong lokal dan hasil kawin silang di Indonesia, teknik dan strategi perkawinan serta penanggulangan penyakit atau gangguan reproduksi.  Dengan  tujuan  untuk memberikan gambaran permasalahan reproduksi berbagai rumpun sapi potong lokal dan hasil kawin silang pada usaha perbibitan.

Pemeliharaan sapi potong baik lokal maupun hasil silang mengalami permasalahan reproduksi. Untuk itu, diperlukan strategi manajemen yang optimal untuk meningkatkan angka kelahiran yang sesuai.

Site Maps

APLIKASI LOLIT SAPI POTONG

VISITORS COUNTER

TodayToday14
YesterdayYesterday74
This_WeekThis_Week457
This_MonthThis_Month2014
All_DaysAll_Days395374

 


(by AWStats )

266468
View Pages
2815511
Hits

Kunjungi media sosial kami :