Login to your account

Username *
Password *
Remember Me

Create an account

Fields marked with an asterisk (*) are required.
Name *
Username *
Password *
Verify password *
Email *
Verify email *
Captcha *
Reload Captcha

Pasuruan – Tim Humas Kementerian Pertanian (Kementan) yang diwakili oleh Deny Kristianto, S.Sos, M.Si selaku staf Biro Humas dan Informasi Publik Sekretariat Jenderal Kementan mengunjungi Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) sebagai upaya untuk mempercepat serapan teknologi inovasi Lolitsapi oleh masyarakat. Dalam kesempatan ini Deny diterima langsung oleh Kepala Lolitsapi Dr. Ir. Dicky Pamungkas, M.Sc dan Petugas Jasa Penelitian (Jaslit) Jauhari Efendy, S.Pt, M.Si.

Deny mengungkapkan bahwa kedatangannya dalam upaya mengekspose inovasi yang telah dihasilkan oleh Lolitsapi. Salah satu yang menjadi fokus adalah teknologi aplikasi rekording sapi potong bernama SIDIK (Sistem Identifikasi dan Rekording Ternak). “Saat ini sudah eranya digitalisasi, maka inovasi vital (mengubah dari manual menjadi digital) seperti SIDIK ini penting untuk diekspose dengan baik ke masyarakat umum. Sehingga masyarakat dapat segera merasakan manfaatnya,” ujar Deny.

Dicky Pamungkas menambahkan bahwa dengan menggunakan SIDIK maka peternak dapat merasakan banyak keuntungan. Jika rekording dilakukan dengan benar, maka peternak dapat memiliki portofolio yang akan memberikan nilai tambah bagi ternak yang dimiliki.

Sementara itu, dalam kesempatan lainnya saat memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek) penggunaan aplikasi SIDIK di Kebumen, Dr. Hartati selaku inventor SIDIK mengatakan bahwa SIDIK hadir dengan latar belakang untuk memudahkan peternak dalam mengamati sapinya dengan terstruktur. “SIDIK dapat menjadi wadah untuk melakukan identifikasi dan rekording sehingga dapat mempermudah dalam membedakan satu sapi dengan sapi lainnya. Hal ini akan membantu kita untuk mengetahui riwayat keturunan ternak sehingga bisa menjadi dasar seleksi untuk mendapatkan bibit unggul,” jelas Hartati.

Adapun data yang bisa dipantau oleh peternak dari aplikasi SIDIK diantaranya adalah ID Eartag, kategori ternak, jenis ternak, jenis kelamin ternak, ID pejantan, ID induk, rumpun ternak, tempat lahir ternak, tanggal lahir, panjang badan, tinggi badan, lingkar dada, bobot badan, bobot  badan induk, metode perkawinan, tipe kelahiran dan asal ternak. Dalam aplikasi SIDIK juga ada konten berita baik berbentuk artikel, foto dan video serta adapula forum diskusi dan PPOB sebagai sarana peternak dapat berbisnis.

Bali – Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) menghadiri Forum Komunikasi Pengadaan Barang/Jasa Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Kementerian Pertanian yang dilaksanakan pada tanggal 18 – 20 Juli 2018 berlokasi di The Patra Bali Resort&Villas. Kegiatan ini diselenggarakan berkaitan dengan dicabutnya Perpres No. 54 tahun 2010 diganti dengan Perpres No. 16 tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Adapun petugas yang berangkat dari Lolitsapi adalah Andreas Widyo K, A.Md dan A. Ichsanudji, A.Md.

Kegiatan yang dimotori oleh Sekretariat Jenderal Kementan ini diawali dengan laporan Ketua Pelaksana Wawan Setiawan dari Subbagian Biro Umum Pengadaan Kementan. Dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali I Made Rai Yasa dan Kepala Biro Umum dan Pengadaan Sekjen Kementan Sri Sulihati.

Sehubungan dengan diresmikannya peluncuran aplikasi SPSE v.4.2., Sri Sulihati meminta dukungan dari seluruh Kuasa Penggunaan Anggaran (KPA), Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) , dan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) lingkup Kementan untuk mendukung percepatan upgrade aplikasi tersebut.

“Sistem Pengadaan Barang/Jasa secara Elektronik (SPSE) yang efisien dan efektif merupakan bagian penting dalam upaya pengelolaan keuangan negara. Melalui sistem tersebut akan lebih meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas pembelanjaan uang negara,” ujar Sri Sulihati.

Sehingga diharapkan peluncuran aplikasi SPSE v.4.2. ini merupakan bentuk transisi implementasi Peraturan Presiden tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah terbaru dimana nantinya seluruh Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Pengadaan Langsung, Lelang, Penunjukan Langsung, Kontes, Sayembara, dan Swakelola) wajib dilakukan melalui SPSE

Banyuwangi – Sebagai salah satu UPT lingkup Badan Litbang Pertanian, Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) turut ambil bagian menyajikan teknologi inovasi sapi Potong pada gelaran Banyuwangi Agro Expo 2018 yang berlangsung pada 14 – 21 Juli 2018. Selain Lolitsapi, beberapa UPT lingkup Balitbangtan yang hadir diantaranya adalah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang dan Balai Peneliltian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Malang.

Dalam gelaran pameran yang berlangsung di Lapangan Kebalenan, Jalan Brawijaya Banyuwangi ini, beberapa teknologi yang disajikan Lolitsapi adalah Kandang Kelompok Model Balitbangtan, Nano Hormon (teknologi sinkronisasi masa birahi dan penanganan gangguan reproduksi), Immunodotbloting Pregnancy Kit (alat pendeteksi kebuntingan minimal 15 hari dengan akurasi hingga 85 – 90%), Nut-MB Plus (suplemen pakan), jenis bahan pakan yang dapat dimanfaatkan untuk sapi potong, konsentrat induk bunting, pupuk kompos, hingga spesifikasi pejantan unggul sapi PO dan Madura. Lolitsapi  juga menyajikan teknologi tersebut dalam bentuk poster, buku dan leaflet yang dapat menjadi oleh-oleh bagi pengunjung sebagai bahan untuk belajar.

Peneliti Lolitsapi Jauhari Efendy, S.Pt, M.Si mengharapkan pameran ini dapat menjadi stimulus bagi masyarakat untuk bisa mengaplikasikan teknologi sapi potong dengan optimal. “Sehingga saya mengharapkan terjadinya transfer teknologi sapi potong baik itu kepada peternak secara langsung, maupun terhadap masyarakat umum, hingga mahasiswa (akademisi),” ujar Jauhari.

Pameran Banyuwangi Agro Expo 2018 ini turut dihadiri pula oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sadjojo. Eko mengatakan bahwa beragam inovasi pertanian dan pemasaran yang unik ini dapat meningkatkan nilai produk pertanian. Sehingga diharapkan berdampak positif untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Mengangkat tema “Kampung Wong Tani”, pemeran ini memamerkan beragam jenis padi, sayuran dan buah. Ada pula buah eksotis Banyuwangi seperti durian merah, nangka merah, semangka merah dan kuning non biji berukuran mini

Bali – Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) mengikuti koordinasi dan sinkronisasi penatausahaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Hotel Grand Mega, Bali pada tanggal 4 – 6 Juli 2018. Kegiatan ini dihadiri oleh 95 peserta yang terdiri dari pengelola PNBP dari satuan kerja lingkup Kementerian Pertanian Wilayah Timur yang diselenggarakan oleh Biro Keuangan dan Perlengkapan, Kementan.

PNBP merupakan seluruh penerimaan pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Ada dua jenis penerimaan PNBP, yakni Penerimaan Umum dan Penerimaan Fungsional. Penerimaan umum adalah penerimaan yang berasal dari bukan dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga. Sedangkan penerimaan fungsional adalah penerimaan yang diperoleh dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi Kementan.

Sehingga dengan dilaksanakan koordinasi dan sinkronisasi penatausahaan PNBP diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan menyamakan persepsi tata kelola PNBP agar mencapai pelayanan maksimal dan PNBP optimal.

Adapun rangkaian acara yang dilaksanakan adalah laporan dari Ketua Panitia Ir. Teguh Munajat, MM, sambutan Kepala Balai Karantina Kelas I Denpasar drh. I Gusti Ngurah Rai, dan pengarahan dari Kepala Bagian Perbendaharaan dan PNBP Toto Sumanto yang sekaligus membuka acara ini.

Materi yang disampaikan dalam acara ini adalah empat poin diantaranya : Kebijakan Tata Kelola PNBP, yakni 1) Penyusunan rencana PNBP; 2) Pemungutan PNBP; 3) Penyetoran PNBP; 4) Pelaporan dan rekonsiliasi PNBP; 5) Pengawasan PNBP; dan 6) Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola PNBP.

“Kami juga mendapatkan materi tata cara penyetoran PNBP yang telah diatur dalam PMK No. 3 tahun 2013. Serta juga materi penatausahaan PNBP lingkup Kementan menggunakan aplikasi TRPNBP,” ujar Febtavri Nurul A.Q., S.Sos perwakilan Lolitsapi yang hadir dalam acara ini

Bogor – Dalam upaya mendukung target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) tahun 2020, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) mengadakan workshop Pelatihan Peningkatkan Kompetensi dan Pengetahuan Peneliti tentang Perhitungan emisi Gas Rumah Kaca komoditas peternakan menggunakan software ALU Tool. Kegiatan ini akan berlangsung pada Senin – Jumat (16-20 Juli 2018) di The Sahira Hotel Bogor.

Kepala Puslitbangnak Dr. Atien Priyanti, M.Sc mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proyek Badan Litbang Pertanian yang bernama Sustainable Management of Agricultural Research and Technology Dissemination (SmartD). Workshop kali ini dibuka langsung oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Ir. Muhammad Syakir, M.S, yang mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia bertekad untuk mengurangi emisi GRK sebanyak 26% pada tahun 2020. Diharapkan pada tahun 2030 Indonesia dapat menurunkan emisi dari semua sektor sebesar 29% dengan usaha sendiri. Dikutip dari Bisnis.com, komitmen ini tercantum dalam Conference of the Parties (COP) ke-21 pada Desember 2016 di Paris.

Beberapa kegiatan yang telah berlangsung yakni penyampaian teori perubahan iklim emisi GRK komoditas peternakan dari Dr. Joel Gibbs (New Zealand). Selanjutnya paparan teknik mengukur serta menghitung emisi GRK komiditas peternakan oleh Dr. Stefan Muetzel (New Zealand) dan penjelasan panduan IPCC 2006 oleh Dr. Leandro Buendia (Filipina).

Pelatihan ini sendiri diikuti oleh 36 peserta, yang terdiri dari 26 peneliti BPTP, 2 peneliti Balai Penelitian Peternakan (Balitnak), 3 peneliti Puslitbangnak, 2 peneliti Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi), 2 peneliti Loka Penelitian Kambing Potong (Lolitkambing) dan 1 peneliti Balingtan. Adapun peneliti dari Lolitsapi yang hadir yaitu Dr. Yenny Nur Anggraeny, S.Pt., MP dan Noor Hudhia K, S.Pt., M.Si.

Kepala Lolitsapi Dr. Dicky Pamungkas, M.Sc mengungkapkan bahwa emisi GRK telah menjadi isu internasional dan sudah banyak effort dari tiap negara untuk mengeliminasinya. “Kita sudah memulai dengan beberapa inisiasi riset-riset pakan yang mengarah ke ramah lingkungan dengan penerapan formulasi yang tidak hanya mengarah pada penurunan emisi carbon, tetapi juga ke peningkatan prekursor asam propionat sebagai rancang bangun pembentukan otot dan daging,” ujar Dicky.

Senada dengan Dicky, Yenny juga mengungkapkan bahwa beberapa usaha telah dilakukan untuk menurunkan emisi GRK. “Diantaranya adalah dengan melakukan penelitian pakan dengan serat kasar rendah, penggunaan ekstrak saponin dan tanin serta penggunaan probiotik penurun metana,” ucap Yenny

Site Maps

APLIKASI LOLIT SAPI POTONG

VISITORS COUNTER

TodayToday55
YesterdayYesterday77
This_WeekThis_Week359
This_MonthThis_Month1262
All_DaysAll_Days390015

 


(by AWStats )

266468
View Pages
2815511
Hits

Kunjungi media sosial kami :